Kamis, 20 Mei 2010

TIPS DAN TRIK MEMBUAT SIAPAPUN TERGILA-GILA DENGAN ANDA

5 CARA MEMBUAT SIAPAPUN TERGILA-GILA DENGAN ANDA


Pernah tergila-gila? Anda tahu bagaimana rasanya, bukan berniat meragukan, tapi.... (jangan tersingung please) bagi anda yang belum pernah merasa "digila-gilai", hahaha, sebaiknya anda baca artikel ini, atau bagi anda para casanova, tak ada salahnya meningkatkan kualitas "sihir" anda bukan?

Mari kia simak 5 cara membuat siapapun tergila-gila.

Dalam bukunya bukunya, Superflirt, Tracey Cox mengungkapkan 5 trik sederhana yang dapat Anda gunakan untuk membuat siapa pun jatuh cinta dengan Anda. Anda tidak akan percaya betapa mudahnya untuk memenangkan target CINTA anda. Cari tahu bagaimana Anda dapat mengirimkan sinyal yang tepat:


Kadang dibutuhkan perjuangan panjang, menahan air liur, menangis, meratap, dan hasilnya nol. Tenanglah, tekhnik ini mungkin terdengar seperti hadiah dari surga, tapi percaya deh, ini sama sekali bukan sihir. Maksud saya bukan berarti tekhnik yang bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita diluar keinginannya. Wah, kalau bisa begitu sih, mending saya mulai menggaet hati bintang idola saya saja. Jadi jangan pikir macam-macam dulu, terus saja baca, saya tahu... anda pasti ingin tahu kan... hahaha

SERING-SERING BERSAMANYA... LALU MENGHILANGLAH

Semakin Anda berinteraksi dengan seseorang, semakin mereka akan mirip seperti Anda,itu kata David Lieberman, seorang ahli perilaku manusia di Amerika sana. Ini dia beneran loh, ada beberapa studi yang menunjukan bahwa kita bergulat dengan sesuatu secara sering, maka kita akan menyukainya. Jadi di awal-awal hubungan, buatlah ia menyukai kebersamaan dengan kita. Siapkan waktu anda yang banyak buat dia.

Nah, perhatikan baik-baik karena ini bagian yang agak sulit. Jika anda benar-benar yakin bahwa dia menyukai kebersamaan anda dengannya, maka mulailah menghilang. Hehehe, terdengar jahat, tapi coba pikir, jika di depan pintu kamar anda selalu ada setumpuk berlian dan anda melihatnya setiap hari, anda tentu akan sulit memahami bahwa itu adalah barang berharga. Ingat dengan PRINSIP KELANGKAAN membuat berharga.

JANGAN BERMANIS-MANIS KEPADANYA, BIARKAN DIA YANG BERMANIS-MANIS KEPADA KITA.

Jika Anda melakukan sesuatu yang baik bagi seseorang, itu membuat Anda merasa baik pada dua tingkatan. Anda merasa senang dengan diri sendiri dan ekstra-dekat dengan orang yang baru saja anda manjakan. Untuk mencari pembenaran atas biaya-biaya yang kita keluarkan kita seringkali menanamkan dalam hati "oh, dia memang begitu indah dan layak mendapatkannya". Hasil akhirnya, kita menyukai secara berlebihan. Coba pikir lagi deh, ketika kita menerima sesuatu dari orang lain kita mungkin senang, tetapi ada emosi lain yang bermain dan tidak selamanya baik, misalkan saja perasaan ingin membalas kebaikan dari seseorang yang anda sukai, tapi juga masih anda ragukan. Mengerti kan? Ketika kita tergila-gila dengan seseorang, kita putus asa untuk memberinya berbagai "kebaikan". Sebaiknya anda yang membiarkan dia memanjakan anda.

BERI MEREKA "MATA"

Ahli psikologi Harvard, Zick Rubin melakukan upaya untuk mengukur kekuatan cinta seseorang dan mencatatnya secara ilmiah melalui tatapan mata.Hasilnya, penelitiannya menujukan bahwa pasangan yang sedang dimabuk kepayang akan menghabiskan 75 persen waktu mereka untuk saling memandang pada saat mereka berbicara satu sama lain. Dan jikalaupun ada yang berani mengganggu, mereka akan lama dulu baru menoleh. Bandingkan dengan beradu pandangnya percakapan normal yang kira-kira hanya 30 - 60 persen saja waktu berpandangan.

Berikut adalah cara kerjanya: Jika anda melihat seseorang yang Anda sukai 75 persen dari waktu ketika mereka sedang berbicara dengan Anda, sebetulnya Anda tengah "mengakali otak mereka. Otak terakhir kali mengetahui bahwa seseorang memandang mereka begitu sering dan begitu lama, dalam otaknya akan tertanam bahwa "anda saling mencintai". Jadi mulailah dia berpikir "aku jelas jatuh cinta dengan orang ini juga", dan mulailah untuk melepaskan Phenylethylamine (PEA). PEA adalah sepupu kimia amfetamin dan disekresi oleh sistem saraf ketika kita pertama kali jatuh cinta. PEA lah yang membuat telapak tangan kita berkeringat, perut kita terbalik, dan jantung kita berpacu. Semakin PEA orang yang Anda inginkan terpompa melalui aliran darah, semakin besar kemungkinan ia jatuh cinta dengan Anda. Meskipun Anda secara jujur tidak dapat memaksa seseorang untuk memuja Anda jika dia tidak tertarik (mereka tidak akan membiarkan Anda melihat ke mata mereka selama itu), Sangatlah mungkin untuk memulai produksi PEA menggunakan teknik ini. Cobalah. Saya pikir Anda akan sangat terkesan dengan hasilnya. Memberikan sensasi seseorang merasa jatuh cinta setiap kali dia dengan Anda, dan itu bukan masalah besar baginya untuk akhirnya memutuskan bahwa dia juga mencintai anda!

JANGAN MENGALIHKAN PANDANGAN

Ada temuan penting lain dari penelitian Rubin: pasangan membutuhkan waktu lebih lama untuk berpaling saat orang lain bergabung dalam percakapan. Sekali lagi, jika Anda melakukan ini kepada seseorang yang tidak (atau belum) mencintaimu anda, Anda trik otaknya agar dia mengira dia sedang jatuh cinta, dan bahkan memompa PEA banjir ke dalam aliran darahnya. Lownes Leil menyebut ini teknik "mata permen." Cukup kunci mata anda dengan orang yang Anda sukai dan menjaga mereka di sana, bahkan ketika ia telah selesai berbicara atau orang lain bergabung dengan percakapan. Ketika Anda akhirnya melakukan mengalihkan pandangan Anda menjauh (tunggu dulu 3 atau 4 detik baru menoleh), lakukan perlahan-lahan dan enggan - seolah-olah anda terikat oleh toffee hangat. Teknik ini mungkin tidak terdengar terlalu inspiratif tetapi percayalah, jika dilakukan dengan benar-benar tekhnik ini bisa bikin anda megap-megap. Jika Anda terlalu malu untuk memandang secara terbuka, lakukan tekhnik bola memantul. alihkan pandangan pada orang lain yang bergabung dalam percakapan, tapi setiap kali mereka menyelesaikan kalimat, biarkan mata Anda memantul kembali ke orang yang Anda sukai tersebut.

PRAKTEK PUPILLOMETRICS

(UNTUK DEWASA)

Kita semua tahu "tatapan aura ranjang" ketika kita melihat mereka: ini tampilan nafsu. Ada satu hal yang Anda butuhkan untuk tatapan tersebut: PUPIL YANG BESAR. Menurut pupillometrics, ilmu studi pupil, anda tidak dapat mengonrol pupil anda, itulah sebabnya ada istilah "mata tak bisa berdusta". Tapi kita bisa mengakalinya loh misalkan dengan meredupkan lampu. Jadi disini anda juga mengetahui konsep CANDLE LIGHT DINNER. Itu bukan cuma untuk menghadirkan kesan romantis dengan pantulan cahaya lilin di wajah anda loh. Tapi MEMBESARKAN PUPIL sehingga akan membuat anda tampak lebih "bergairah". Jadi latihlah hal ini.

Yah begitulah, saya lumayan lelah mengetik artikel ini, dan saya ingat bahwa saya juga belum laku, jadi mungkin saya juga akan menerapkannya setelah selesai update blog. hahaha...

PROPOSAL PELAKSANAAN PENILAIAN PEMBELAJARAN GEOGRAFI DI KELAS XI SMA NEGERI 1 LAMBA LEDA KABUPATEN MANGGARAI TIMUR”.

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Indikator utama yang digunakan untuk menilai kualitas pembelajaran dan kelulusan siswa dari suatu lembaga pendidikan, sering didasarkan pada hasil belajar siswa yang tertera pada nilai hasil tes belajar siswa (THB) atau nilai EBTANAS murni (NEM). Dampak dari pandangan tersebut yang diperkuat dengan bentuk tes yang digunakan, mendorong guru berlomba-lomba dalam mentransfer materi pelajaran sebanyak-banyaknya untuk mempersiapkan anak didik dalam mengikuti THB atau EBTANAS. Akibat seperti yang dikemukakan oleh A. Malik fajar dalam harian kompas (Mei 1994) bahwa yang terjadi dikemudian hari adalah anak didik dipaksa untuk melahap informasi yang disampaikan tanpa memberi peluang sedikitpun untuk melaksanakan refleksi secara kritis. Dalam hal ini anak didik hanya dituntut untuk belajar dengan cara menghafal semua informasi yang telah disampaikan oleh guru.

Dari hasil pengamatan dilapangan (terutama terhadap pembelajaran geografi di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Lamba Leda kabupaten Manggarai Timur), proses penilaian yang dilakukan selama ini semata-mata hanya menekankan pada penguasan konsep yang dijaring dengan tes tertulis obyektif dan subyektif sebagai alat ukurnya. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan umumnya hanya berpusat pada penyampaian materi dalam buku teks. Keadaan fakta ini mendorong siswa untuk menghafal pada setiap kali akan diadakan tes harian atau tes hasil belajar.

Proses pembelajaran geografi di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Lamba Leda menuntut keterlibatan peserta didik secara aktif dan bertujuan agar penguasaan dari kognitif afektif serta psi-komotorik terbentuk pada diri siswa, maka alat ukur hasil belajar tidak cukup jika hanya dengan tes obyektif atau subyektif saja, akan tetapi dalam menentukan untuk menilai hasil belajar siswa harus dengan melihat secara keseluruhan yaitu dengan tes kerja atau performance test dan jenis penilaian alternative lainnya seperti penilaian produk, portofolio dan penilaian tingkahlaku siswa.

Fenomena diatas menunjukan bahwa bentuk atau sistem penilaian yang digunakan dalam mengukur hasil belajar siswa sangat berpengaruh terhadap strategi pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru. (Depdikbud, 1994) Sistem penilaian yang benar adalah yang selaras dengan tujuan dan proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran geografi pada kurikulum 2004 dapat dirangkum kedalam tiga aspek sasaran pembelajaran yaitu penguasaan konsep geografi, pengembangan ketrampilan proses/kinerja siswa dan penanaman sikap ilmiah.

Tiga target pembelajaran pendidikan geografi menuntut konsekuensi terhadap alat ukur yang digunakan. Penggunaan tes obyektif dan subyektif semata-mata sangatlah tidak tepat. Kedua bentuk tes ini hanya mampu menggambarkan seberapa banyak informasi yang berhasil dikumpulkan siswa dan mempunyai kecenderungan membuat siswa lebih pasif dari pada kreatif karena peserta didik hanya dibiasakan untuk mengingatkan materi yang telah dihapal. Agar hasil belajar dapat diungkap secara menyeluruh maka selain digunakan alat ukur tes obyektif dan subyektif perlu dilengkapi dengan alat ukur yang dapat mengetahui kemampuan siswa dan aspek kerja ilmiah dan seberapa baik siswa dapat menerapkan informasi pengetahuan yang diperolehnya. Alat penilaian yang diasumsikan dapat memenuhi hal tersebut antara lain adalah tes kerja atau performance test dan jenis penilaian alternative lainnya seperti penilaian produk, portofolio dan penilaian tingkah laku. Dengan menerapkan penilaian seperti itu terhadap siswa dapat dikumpulkan bukti-bukti kemajuan siswa secara aktual yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya. Selain itu penilaian dengan cara ini dirasakan lebih adil dan fair bagi siswa serta dapat meningkatkan motivasi siswa untuk terlibat secra aktif dalam proses pembelajaran. (Nur dalam Riberu 1997).

Dengan mengkaji kenyataan yang ada di lapangan, nampak ketidaksesuaian antara pembelajaran geografi dengan sistem penilaian yang digunakannya. Proses penilaian yang biasa dilakukan oleh guru selama ini hanya mampu menggambarkan aspek penguasaan konsep peserta didik, akibatnya tujuan kurikuler mata pelajaran geografi belum dapat dicapai dan atau tergambar secara menyeluruh. Untuk itu perlu diuapayakan suatu teknik penilaian yang mampu mengungkap aspek produk maupun proses, salah satu dengan menerapkan penilaian kinerja siswa.

Menurut UU No.20 tahun 2003 dijabarkan dalam PP No.19 tahun 2005 Bab 11 pasal 2 ayat 1 dijelaskan bahwa standart Nasional pendidikan mencakup standart isi, standart proses, standart kompetensi, kelulusan, standart pendidik dan tenaga kependidikan, standart nasional pendidikan dijadikan sebagai dasar untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan, karena dalam era globalisasi dituntut kurikulum berbasis kompetensi (KBK) bisa menjawab tantangan persaingan pada kemampuan sumberdaya manusia.

Dalam menentukan kemampuan peserta didik di sekolah, hal yang penting yang harus diperhatikan oleh seorang guru adalah bagaimana cara untuk menilai siswa yang sesuai dengan disiplin ilmu yang diajarkan. Dalam pelaksanaan penilaian yang dilakukan pada sekolah menengah atas ada tiga komponen yang sangat penting yang harus dilaksanakan yaitu: tugas siswa, meat semester dan ujian semester. Ketiga komponen ini merupakan suatu proses penilaian yang sangat penting untuk bisa mendapat hasil belajar siswa.

Realitas menunjukan bahwa pelaksanaan penilaian terhadap pembelajaran geografi di SMA Negeri .I Lamba Leda kelas XI dengan cara konvensional belum mampu mengungkap hasil belajar siswa dari aspek sikap dan proses atau kinerja siswa secara aktual. Oleh karenanya diperlukan sistem penilaian yang dapat mengungkap kedua aspek tersebut.

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik dengan judul “PELAKSANAAN PENILAIAN PEMBELAJARAN GEOGRAFI DI KELAS XI SMA NEGERI 1 LAMBA LEDA KABUPATEN MANGGARAI TIMUR”.

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi masalah pokok dalam penelitian ini adalah belum dilaksanakan sebagaimana mestinya pelaksanaan penilaian terhadap pembelajaran geografi di kelas XI SMA Negeri 1 Lamba Leda. Dengan demikian dapat dirumuskan permasalahannya adalah: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan Pelaksanaan Penilaian Terhadap Pembelajaran Geografi di Kelas XI SMA Negeri 1 Lamba Leda Belum di Laksanakan sebagaimana mestinya?

C. TUJUAN DAN KEGUNAAN

a) Tujuan

1). Untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang menyebabkan Pelaksanaan Penilaian Terhadap Pembelajaran Geografi di Kelas XI SMA Negeri 1 Lamba leda belum dilaksanakan sebagaimana mestinya.

2). Untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh guru geografi dalam mengatasi masalah pelaksanaan penilaian pembelajaran geografi.

b) Kegunaan

Kegunaan Penelitian ini adalah:

1. Sebagai bahan informasi bagi peningkatan penilaian pembelajaran geografi di kelas XI SMA Negeri 1 Lamba Leda.

2. Sebagai bahan informasi dan sumbangan pikiran bagi guru yang berminat dan tertarik tentang masalah penilaian pembelajaran Geografi.

3. Sebagai meningkatkan minat belajar bagi peserta didik untuk meningkatkan hasil belajar di sekolah.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORITIS

A. TINJAUAN PUSTAKA

Supaya seorang guru dapat berhasil dalam pelaksanaan tugasnya, maka seorang guru dituntut untuk menggunakan berbagai cara dalam pelaksaan penilaian terhadap pembelajaran, sehingga tujuan dari pembelajaran yang sebelumbnya belum mencapai apa yang kita harapkan dapat tercapai. Cara-cara tersebut dapat ditemukan dalam bagaimana seorang guru dalam menilai siswa baik itu didalam kelas maupun di luar kelas. Penilaian yang dilakukan oleh seorang guru tiap hari dalam kelas terhadap siswa adalah lewat sejauhmana kemampuan siswa dalam mencerna apa yang dijelaskan oleh guru (Tanya jawab), sedangkan penilaian yang dilakukan oleh seorang guru terhadp siswa di luar kelas dengan cara melihat sejauhmana kemampuan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Penilaian berarti suatu tindakan untuk menentukan nilai Sesuatu. Dalam arti luas penilaian adalah suatu proses dalam merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan (Mehrens dan Lelman, 1978). Dalam kaitannya dengan kegiatan pengajaran, (Gronlund 1975) merumuskan pengertian penilaian sebagai ”Penilaian adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauhmana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa. Sedangkan (Wrightstone dkk 1956) mengemukakan rumusan penilaian pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa kearah tujuan-tujuan atau nilai yang telah di tetapkan.

Ahli-ahli penilaian telah mengembangkan kriteria khusus untuk menilai berbagai alat pengukuran. Dua dari kriteria yang penting untuk menilai alat pengukuran ialah validitas dan reliabilitas. Validitas menunjukan pada penyesuaian alat pengukur dengan tujuan yang hendak diukur.

Tes dikatakan memiliki validitas apabila tes ini betul-betul mengukur apa yang hendak di ukur. Jika suatu tes untuk mengukur pelajaran geografi harus benar-benar mengukur hasil belajar siswa dalam mata pelajaran geografi bukan mengukur faktor-faktor lain yang tidak relevan. Tes hanya valid untuk tujuan tertentu dan tidak valid untuk tujuan lain. Sebenarnya penting untuk diketahui bahwa validitas ini bukan ditekankan pada tes itu sendiri tetapi pada hasil pengetesan atau skornya. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur sampai dimana seorang menguasai suatu kemampuan khusus setelah memperoleh pelajaran tertentu.

Reliabilitas artinya ketepatan atau dapat dipercaya. Tes yang diberikan berulang-ulang selalu memberikan hasil yang sama atau hampir sama (ajek). Pada umumnya guru dapat memperbaiki reliabilitas dari tes mereka dengan (1) memasukan item-item yang berbeda yang diberikan kepada siswa-siswa sehingga hampir tidak ada satupun yang mendapat semua item-item benar atau salah., (2) menggunakan prosedur skor yang objektif , dan (3) memasukan sejumlah item yang tepat. Misalnya untuk tes pilihan ganda (multiple choice) paling sedikit 35 sampai 40 item. Persyaratan bagi tes yaitu harus valid dan reliabel. Dalam hal ini validitas lebih penting dan reliabilitas perlu karena membantu terbentuknya validitas. Suatu tes dapat disebut valid kalau reliabel. Tetapi satu tes dapat reliabel tanpa harus valid.

Salah satu komponen yang menjadi sasaran dalam peningkatan kualitas pendidikan adalah system pembelajaran di kelas. Proses pembelajaran ini merupakan tanggungjawab oleh seorang guru dalam mengembangkan segala potensi yang ada pada siswa. Tujuan pokok dari proses pembelajaran adalah untuk mengubah tingkahlaku siswa berdasarkan tujuan yang telah direncanakan yang telah disusun oleh guru sebelum proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Perubahan tingkahlaku itu mencakup aspek intelektual, emosional dan fisik (Gronlund & Linn, 1990).

UU RI No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen serta SK Menpan No.26 tahun 1989 yang menentukan bahwa guru mendapatkan tunjangan fungsional sebagai pengajar. Guru sebagai tenaga profesional dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa harus memenuhi persyaratan antara lain:(a) memiliki kode etik, sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. (b) memiliki klien atau objek layanan yang tetap (c) diakui masyarakat karena diperlukan jasanya.

(Surachmand 1970) profesi adalah suatu panggilan jiwa dimana seorang mengatakan telah memperoleh pengetahuan khusus dalam mengajar, membimbing atau memberikan nasehat kepada orang lain. Profesi mengandung unsur pengabdian. Suatu profesi bukanlah dimaksud untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, baik dari segi ekonomis maupun dalam arti psikis, melainkan untuk pengabdian kepada masyarakat.

Ketika proses pembelajaran dipandang sebagai proses perubahan tingkahlaku siswa peran penilaian dalam proses pembelajaran menjadi sangat penting. Penilaian dalam proses pembelajaran merupakan suatu proses untuk mengumpulkan, menganalisa dan menginterpretasi informasi untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran (Gronlund & Linn, 1990)

Sebagai bagian yang sangat penting dari suatu proses pembelajaran, penilaian dalam proses pembelajaran hendaknya dirancang dan dilaksanakan oleh guru. Dengan melakukan penilaian ketika melaksanakan proses pembelajaran, guru akan dapat mengetahui tingkat keberhasilan proses pembelajaran dan akan memperolah bahan masukan untuk menentukan langkah selanjutnya. Dengan demikian kefektifan suatu proses pembelajaran banyak ditentukan oleh peran penilaian dalam proses pembelajaran itu sendiri. (Furgon 1999) menyatakan bahwa pelaksanaan penilaian sebagai salah satu komponen utama. Dalam proses pembelajaran harus dipahami direncanakan dan dilaksanakan dalam upaya mendukung keberhasilan peningkatan mutu proses pembelajaran. Mengingat hal tersebut, perlu dilakukan penilaian dalam proses pembelajaran secara terus menerus dan berkesinambungan sebagai alat pemantau tentang kefektifan proses belajar serta kemapuan siswa belajar.

(Bintarto 2004) mengemukakan geografi adalah ilmu pengetahuan yang menceritrakan, menerangkan sifat-sifat bumi menganalisis gejala-gejala alam dan bentuk, mempelajari corak yang khas mengenai penghidupan dan berusaha mencari fungsi dari unsur-unsur fungsi dalam ruang dan waktu. Untuk meningkatkan sumberdaya manusia yang berkualitas pendidikan sekolah dasar merupakan jenjang yang berperan sangat penting dan mendasar dalam menghasilkan manusia yang berkualitas dalam menanggulangi pembangunan.

Tujuan pembelajaran yang dirumuskan pada langkah awal pembelajaran di gunakan sebagai acuan dalam kegiatan pembelajaran dan proses penailaian yang akan dilakukan. Sebagaimana ditegaskan dalam pedoman penilaian untuk sekolah menengah atas (Depdukbud,1994) Penilaian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan menengah maupun penyelenggara kegiatan belajar mengajar.

Dalam hal ini penilaian adalah suatu kegiatan ayng dilakukan oleh guru untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai siswa.

Dalam pedoman penilaian kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994) ditegaskan bahwa tujuan dan fungsi penilaian untuk memberikan umpan balik kepada guru, siswa orang tua maupun lembaga pendidikan yang berkepentingan serta untuk menentukan nilai hasil belajar dari pada siswa itu sendiri. Bagi guru hasil penilaian tidak hanya digunakan untuk memberi pertanggungjawaban secara obyektif kepada atasan ataupun sekedar bahan nilai raport.

Menurut (Sudjana 1989) menjelaskan bahwa penilaian adalah proses untuk menentukan nilai dari suatu objek atau pristiwa dalam suatu konteks tertentu, dimana proses penentuan nilai berlangsung dalam bentuk interpretasi yang kemudian diakhiri dengan suatu “Judgment” (Keputusan). Berbeda dengan (Arikunto 2008) menjelaskan bahwa penilaian merupakan mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan menggunakan ukuran baik buruk. Demikian pula dengan Worthen dan Sanders 1973 dalam Anderson beliau menjelaskan bahwa penilaian adalah suatu kegiatan untuk mencari sesuatu yang berharga tentang sesuatu dalam mencari sesuatu tersebut juga termasuk mencari informasi yang bermanfaat dalam menilai keadaan suatu program, produk, prosedur serta alternative strategi yang diajukan untuk mencari tujuan yang sudah ditentukan.

Selanjutnya menurut Singarimbun, (Masri dan Effendi 1986) menjelaskan bahwa penilaian adalah proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, objek dan yang lain) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian.

Penilaian merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauhmana, dalam hal apa dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai (Ralph Tyler, 1950). Sedangkan menilai sesuatu produk sehingga dapat kita lukiskan pengembangan suatu proses dan dalam hal ini putusan nilai mengambil peranan penting (Rafi’I,1985).

Selanjutnya menurut Depdikbud 1986 menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan proses yang diselengggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperolah dan memproses pengetahuan ketrampilan dan sikap. (Arikunto 1988) menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan kegiatan guru secara terprogram dalam desai instruk-sional, untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.

Pembelajaran merupakan proses komunikatif-interaktif antara sumber belajar, guru, dan siswa yaitu saling bertukar informasi. Istilah keterampilan dalam Pembelajaran Keterampilan diambil dari kata terampil (skillful) yang mengandung arti kecakapan melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan cekat, cepat dan tepat. Kata cekat mengandung makna tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi dari sudut pandang karakter, bentuk, sistem dan perilaku obyek yang diwaspadai. Di dalamnya terdapat unsur kreatifitas, keuletan mengubah kegagalan menjadi keberhasilan (adversity) serta kecakapan menanggulangi permasalahan dengan tuntas. Istilah cepat merujuk kepada kecakapan mengantisipasi perubahan, mengurangi kesenjangan kekurangan terhadap masalah, maupun obyek dan memproduksi karya berdasarkan target waktu terhadap keluasan materi, maupun kuantitas sesuai dengan sasaran yang ditentukan. Kata tepat menunjukkan kecakapan bertindak secara presisi untuk menyamakan bentuk, sistem, kualitas maupun kuantitas dan perilaku karakteristik obyek atau karya.

Bertolak dari uraian pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa penilaian pembelajaran adalah proses untuk menentukan jasa, nilai atau manfaat kegiatan pembelajaran melalui kegiatan penilaian dan atau pengukuran.

B. LANDASAN TEORI

Berdasarkan kerangka berpikir maka yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini adalah:

1. Penilaian (Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, 1986) adalah menentukan nilai berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian

2. Penilaian Sekolah Menengah Atas (Depdikbud, 1994) penilaian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan menengah maupun penyelenggara kegiatan belajar mengajar

3. Penilaian (Arikunto, 2008) penilaian adalah pengambilan suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk.

4. Pembelajaran (Depdikbud 1986b) pembelajaran adalah suatu proses membelajarkan siswa yang dilakukan oleh guru.

5. Pembelajaran (Arikunto 1988) pembelajaran merupakan kegiatan guru secara terprogram

6. Penailaian pembelajaran (Winarno 1978) penilaian pembelajaran mengarahkan pada suatu proses untuk menentukan jasa, nilai atau manfaat kegiatan pembelajaran melalui kegiatan penilaian dan atau pengukuran.

C. KERANGKA BERPIKIR




Penilaian pembelajaran di pengaruhi oleh:

1. Perencanaan pembelajaran

2. Pelaksanaan Pembelajaran

3. Observasi

4. Refleksi

5. Penilaian pembelajaran.

D. HIPOTESIS

Berdasarkan kerangka berpikir maka yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah Pelaksanaan Penilaian Pembelajaran Geografi di Kelas XI SMA Negeri 1 Lamba Leda di Kabupaten Manggarai Timur belum dilaksanakan sebagaimana mestinya dan masih di pengaruhi oleh kurang optimalnya Perencanaan Pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, Observasi, Refleksi dan Penilaian Pembelajaran terhadap mata pelajaran geografi.

E. KEDUDUKAN DAN DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL

1. Kedudukan Variabel

No.

Variable Pengaruh

Variabel Terpengaruh

1.

2.

3.

4.

5.

Perencanaan Pembelajaran

Pelaksanaan Pembelajaran

Observasi

Refleksi

Penilaian Pembelajaran

Pelaksanaan Penilaian Pembelajaran Geografi

2. Definisi Operasional Variabel

a. Perencanaan Pembelajaran adalah kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan guru dalam menyiapkan materi sebelum mentransfer ilmunya terhadap siswa di dalam kelas. Yang menjadi indikatornya adalah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan RP (Rencana Pembelajaran).

b. Pelaksanaan Pembelajaran adalah kemampuan yang berkaitan dengan bagaimana cara yang dilakukan oleh guru dalam memberikan materi terhadap siswa dalam selama proses pembelajaran berlangsung. Yang menjadi indikatornya adalah RP. 1). Pelaksanaan pembelajaran efektif jika guru menyiapkan atau membuat RPP ≤ 50 %. 2). Pelaksanaan pembelajaran kurang efektif jika RPP yang di buat antara 30 – 50 %. 3). Pelaksanaan Pembelajaran tidak efektif jika RPP yang di buat ≥ 30 %. Pengukuran untuk variabel pelaksanaan pembelajaran adalah efektif, kurang efektif dan tidak efektif.

c. Observasi adalah berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki oleh guru dengan melakukan pengamatan pada saat pelaksanaan pembelajaran. Indikatornya adalah sejauhmana dan bagaimana pengamatan yang dilakukan oleh peneliti mengenai guru di kelas X1 SMA Negeri 1 Lamba Leda.

d. Refleksi kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru dalam menganalisa dan akan menjadi bahan petimbangan hasil test yang dimiliki siswa setiap selama pembelajaran. Indikatornya adalah apakah selalu ada evaluasi (RPP dan RP) kalau ada evaluasi berarti pelaksanaan pembelajaran tidak efektif.

e. Penilaian pembelajaran adalah yang berkaitan dengan kemampuan dari seorang guru bagaimana cara menilai hasil belajar siswa yang efektif dan efisien. Indikatornya menggunakan skor skala antara 0 – 10. klasifikasinya antara lain sebagai berikut:

No

Keterangan Penilaian

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Buruk sekali (Bila siswa mendapat nilai satu 1 )

Buruk (Bila siswa mendapat nilai dua 2 )

Kurang sekali (Bila siswa mendapat nilai tiga 3 )

Kurang (Bila siswa mendapat nilai empat 4 )

Hampir cukup (Bila siswa mendapat nilai lima 5 )

Cukup (Bila siswa mendapat nilai enam 6 )

Lebih dari cukup (Bila siswa mendapat nilai tujuh 7 )

Baik (Bila siswa mendapat nilai delapan 8 )

Baik sekali (Bila siswa mendapat nilai sembilan 9 )

Istimewa (Bila siswa mendapat nilai sepuluh 10)

Sumber: Laporan Nilai dengan angka penilaian hasil belajar SMU Departemen Pendidikan Nasional RI.

f. Pelaksanaan penilaian pembelajaran geografi adalah berkaitan dengan bagaimana pelaksanaan penilaian pembelajaran geografi yang dilakukan oleh guru geografi di sekolah Menengah atas Negeri 1 Lamba Leda. Indikatornya ada 3 macam yaitu:

- Efektif jika siswa lebih dari 50 % mendapat nilai lulus.

- Kurang efektif jika siswa 30 – 50 % mendapat nilai sedang.

- Tidak efektif jika jumlah siswa di bawah dari 30 % mendapat nilai tidak lulus.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. LOKASI PENELITIAN

Lokasi penelitian ini adalah SMA Negeri 1 Lamba Leda di Kabupaten Manggarai Timur dan sebagai kelas sasarannya adalah kelas XI. Alasannya karena di kelas XI SMA Negeri 1 Lamba Leda di Kabupaten Manggarai Timur dalam Pelaksanaan penilaian Pembelajaran Geografi Belum dilaksanakan sebagaimana mestinya atau pelaksanaannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan..

B. POPULASI DAN SAMPEL

1). Yang menjadi populasi dalam penelitian adalah guru geografi yang mengajar mata pelajaran geografi di Sekolah Menengah Atas kelas XI SMA Negeri 1 Lamba Leda di kabupaten Manggarai Timur sebanyak 2 orang.

2). Sampel dalam penelitian ini peneliti menggunakan sample proposive (propopsive sampling) karena dalam penelitian ini yang di teliti adalah guru geografi bukan guru yang lain.

C. JENIS DATA DAN SUMBER DATA

Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah;

1. Jenis Data

a. Data Primer data yang diperoleh langsung dari hasil pengamatan penulis

b. Data sekunder data yang diperoleh dari studi dokumentasi dan studi pustaka yang berkaitan dengan pembelajaran geografi.

2. Teknik Pengumpulan Data

1. Kuesioner yaitu alat mengumpulkan data dengan jalan mengisi daftar pertanyaan yang telah disiapkan.

2. Studi Kepustakaan yaitu mengumpulkan sejumlah refrensi yang dapat digunakan untuk menjawab permasalahan dalam penulisan ini.

3. Dokumentasi adalah mencatat atau mengadakan penelitian tentang bagaimana cara pelaksanaan penilaian terhadap pembelajaran geografi.

3. Analisis Data

Dalam penelitian ini penulis dalam mengolah data dan dapat menganalisa data dengan menggunakan pengolahan data secara deskriptif kualitatif.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, 1988. Penilaian Program Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Bintarto 2004, Metode Analisis Geografi: LP3ES: Jakarta.

Depdikbud, 1986b. Kurikulum Pedoman Proses Belajar Mengajar: Jakarta: Depdikbud.

Depdikbud, 1994. Pedoman Penilaian Untuk Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Depdikbud.

Http://Franciscusti.Blogspot.Com/2008/06/Pembelajaran-Merupakan-Proses.Html.

Oemar, H, 2001, Kurikulum dan Pembelajaran: Bumi Aksara: Jakarta.

PP.No. 19 Tahun 2005, Tentang Standart Nasional Pendidikan: Departemen Pendidikan Nasional.

Riberu, 1997. Pedoman Penilaian Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Suryatna Rafi’i, 1985. Teknik penilaian. Angkasa: Bandung.

Suharsimi Arikunto, 2008. Dasar-Dasar Penilaian Pendidikan. PT Bumi Aksara: Jakarta

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, 1986. Metode Penelitian Survai. Jakarta LP3ES.

Surakhmad, winarno, 1978. Dasar dan Teknik Research: Pengantar Metodologi Ilmiah: Bandung Tarsito.

Surakhmad, W, 1986. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar: Tarsindo: Bandung.

Whorten dan Sanders, 1973 dalam Anderson, 1975. Penilaian Program Pendidikan. PT bumi aksara: jakarta.

UU, No. 14 Tahun 2005, Tentang Guru dan Dosen: Departemen Pendidikan Nasional.

Laporan Nilai Dengan Angka Penilaian Hasil Belajar Sekolah Menengah Atas: Departemen Pendidikan Nasional RI.