Sabtu, 12 Mei 2012

MORALITAS SEKSUAL


BAB I
PENDAHULUAN


MoraliUngkapan konkret seksualitas untuk setiap orang berbeda, kerena harus sesuai dengan status hidup seseorang. Seorang selibater yang telah mempersembahkan hidupnya secara khusus untuk Tuhan dan umatnya, tentu berbeda cara pengungkapan seksualitas yang dilakukan oleh pasangan suami-istri.
b. Penghayatan Pluriform (Beraneka ragam) dari seksualitas:
               Frits Leist: (Seorang ahli Moral Seksualitas) mengatakan: “Manusia bertemu dengan orang lain selalu dalam horizon seksualitas”. Kenyataan ini berlaku bagi setiap orang, apapun dia.
               Tugas setiap orang adalah; “Mengada secara manusiawi, yaitu secara badani dan rohani untuk orang lain”. Karena itu, seksualitas harus mendapat tempat yang sewajarnya dalam hidup manusia.Artinya; ketika seseorang bertemu dengan orang lain, maka ia harus mengekspresikan dirinya dengan situasi kepriaan dan kewanitaan yang ia miliki.
c. Penghayatan seksualitas atas dua cara:
                        Seksualitas dalam arti: “Mengada secara jasmani dan rohani untuk orang lain; diungkapkan dalam dua cara:
·         MEMILIH JALAN HIDUP KAWIN.
Dalam pilihan hidup seperti ini; hubungan seksualitas mempunyai tempat tersendiri; yaitu sebagai suatu ungkapan mengenai ketertarikan total dari dua pribadi. Menurut kodratnya; hubungan seksual dalam perkawinan meminta suatu kebersamaan dalam jalan hidup, meminta pula suatu kebersamaan dalam tanggungjawab.
·         MEMILIH JALAN HIDUP TIDAK KAWIN/SELIBATER.
Pilihan jalan hidup seperti ini, karena didasari oleh sebuah alas an yang istimewah atasnya. Bisa saja manusia begitu tertaarik akan olrh Tuhan dan kedatangan kerajaanNya, sehingga mereka mau membaktikan hidupnya untuk sesama.
            Kesimpulan:
1.      Seorang selibater adalah seorang manusia 100 % pria dan 100 % wanita.
2.      Seorang selibater; bukan seorang yang terkudung atau manusia yang setengah saja = 50 %
3.      Sebagai seorang manusia, selibater pun terpanggil untuk memberi diri bagi orang lain secara badaniah dan rohaniah, sesuai dengan pilihan hidup yang telah ditetapkannya.
4.      Manusia selibater, boleh atau harus memberi bentuk kepada seksualitasnya.

1.5.2. Kebajikan Kemurnian/Kesucian:
            a. Pengantar:
        Ada dua sikap yang perlu dipahami dalam pembicaraan kita tentang seksualitas:                                                                                                                               
1.      Segi KREATIF dari seksualitas:
Yang dimaksudkan dengan segi Kreatif dari seksualitas adalah; segi yang membangun, segi yang membahagiakan orang lain, yang mengarah kepada paertner, teman, yang ditunjukan dengan sikap: tahu berkorban diri, dan tahu menahan diri.
2.      Segi DESTRUKTIF dari seksualitas:
Yang dimaksudkan dengan segi Destruktif adalah; segi yang merusakan, merendahkan, , yang bermain dengan kuasanya, yang tidak peduli dengan perasaan sesame, yang hanya mencari keuntungan diri atau bersifat egoistis.
                       
                                    Kedua segi ini ada dalam diri kita, ibarat dua mata uang pada logam yang sama. Mau atau tidak mau, setiap kita mengahadapi kenyataan ini. Tapi dalam kenyataan hidup, justru yang lebih banyak terjadi adalah: segi destruktif.
                                    Ada satu hal yang perlu diwaspadai adalah: dalam kehidupan di dunia ini, ada tiga kekuasaan yang cukup kuat dan bisa saja membawa bencana bagi kehidupan manusia adalah: SEKS, UANG DAN PANGKAT/KEWIBAWAAN. Ketiga hal ini, boleh diakatakan sebagai kekuasaan dunia yang mempunyai pengaruh yang sangat besar atas kehidupan manusia. Katiga kekuasaan ini, begitu kuat mengancam manusia, dan bisa saja menyeret manusia untuk menjadi hamba atau budak atasnya.

         b. Inti KEMURNIAN:
                        Untuk mendalami inti kemurnian: pertanyaan yang mesti menjadi perhatian kita adalah; “Sikap dasar manakah bagi manusia dalam menghayati seksualitasnya secara sungguh manusiawi dan sungguh Kristen secara penuh?”
                        Jawaban terhadap pertanyaan ini, diberikan oleh Injil; yang membicarakan “manusia yang matanya terang dan suci hatinya” (Mat 6:22 dan Mat  5:8). Yang dimaksudkan dengan manusia yang suci murni adalah manusia yang:
·         Yang tidak bermuka dua
·         Yang bersikap polos
·         Yang utuh
·         Yang bening dan dapat dilihat tembus
·         Yang bergaul dengan orang lain dengan sopan-santun.
Sikap dasar yang suci murni, akan mempengruhi seluruh pola laku dan kehidupan; dalam bidang politik, perekonomian, hidup perkawinan, religius, hidup seksual dan sebagainya. Tas dasar itu, maka kemurnian mempunyai daya cakup yang sangat luas.
            Selain itu, hal yang menjadi taget utama dari kemurnian; penguasaan indra oleh Roh, dan melibatkan seluruh pribadi, yaitu tentang tingkah laku lahir dan bathin.

BAB II

BADAN  - SEKSUALITAS


PENDAHULUAN

            Untuk memahami peran seksusalitas, kita perlu melihat dahulu tentang peran dan fungsi badan manusia dalam hubungan antar pribadi. Hal ini terjadi; karena melalui badan, manusia menghadapi orang lain dan mengungkapkan perasaan-perasaannya, sehingga badan dapat dikatakan sebagai jiwa yang menampakan diri, atau bathin yang dinyatakan.
            Sikap manusia terhadap seksualitas, pada umumnya dipengaruhi oleh sikap manusia terhadap badan. Paling kurang kita perlu memiliki gambaran yang tepat tentang badan, agar kita memiliki sikap yang seimbang terhadap seksualitas.
Berikut ini kita akan melihat pandangan sejarah tentang Badan.

2.1.  PANDANGAN PERJANJIAN LAMA TENTANG BADAN.
            Dalam konteks Perjanjian lama, kata yang tepat, yang digunakan dalam ungkapan tentang Badan, menggunakan sebuah uangkapan Ibrani;  “basar”, yang dapat diterjemahkan dengan; daging, badan, manusia dalam keseluruhannya.
Ungkapan ini, tidak terarah pada badan saja. Dalam konteks ini, pandangan Ibrani sangat berbeda dengan pandangan Yunani, yang membagi manusia atas dua hal; yaitu badan dan jiwa.  Kata “Basar” dalam konteks ibrani ini, sering terarah kepada manusia dalam konteks; pengungungkapan kelemahan-kelemahan yang dialami oleh manusia. (Bdk Yes 40:5).

2.2. PANDANGAN PERJANJIAN BARU TENTANG BADAN:
            Dalam konteks PB, kata yang digunakan adalah ”Sarks dan sooma”. Iatilah ini dipakai untuk mengungkapkan tentang manusia secara keseluruhan, tetapi dalam penekanan khusus, yaitu pada konteks “manusia sejauh manusia itu belum ditebus, atau manusia yang belum mengalami keselamatan”. Hal ini berbeda dengan ungkapan’”PNEUMA”, dalam artian; manusia yang telah mengalami penebusan.
            Dalam ajaran St. Paulus, ada beberapa unsur penting mengenai badan:
  • Rasul Paulus menekankan soal kemuliaan Badan;
Dalam konteks ini, bagi Rasul Paulus, badan harus dihargai karena badan meruapakan pengungkapan seluruh kepribadian. (II Kor 4:10)
  • Badan adalah milik Kristus,rumah Roh Kudus (I Kor 6;13.15.29.20). Dalam dan melalui badan, manusia harus memuliakan Allah. Tubuh fana tidak akan lenyap karena badan juga akan dibangkitkan. (I Kor. 15;44-49)

KESIMPULAN
  • Pengertian yang terkandung dalam unfkapan “Sarks”, “Sooma” dan “Pneuma” adalah penjelasan  Paulus tentang beberapa aspek diri manusia. Pertentangan “Jiwa-badan” “Duniawi- surgawi, dll hanya menunjukan rupa-rupa aspek dari manusia yang sama
  • Tetapi penjelasan asli tersebut kemudian ditafsir oleh penganut filsafat dualistis. Seperti dalam Gal. 5;16-17.24-25, sebenarnya keterangan Paulus tentang gambaran yang berbeda, tetapi kemudian, karena filsafat Yunani, dianggap sebagai unsur-unsur  hidup yang bertentangan dalam manusia. (lihatlah: X Leon Dufour, Dictionary of Biblical Theology, sub body)

2.3.FILSAFAT YUNANI

    A. Gambaran Plato
            Plato memiliki keyakinan filosofinya bahwa manusia adalah seumpama kereta dan pengemudi. Kereta itu badan, dan pengemudinya jiwa. Badan adalah penjara jiwa. Roh atau “nus” dipenjara, terbelenggu dalam badan. Keadaan yang paling ideal bagi manusia adalah terlepasnya jiwa dari badan karena berkontemplasi. Inilah satu gambaran dikotomis mengenai manusia ( dicho=dua; tomi= potongan, bagian ). Plato adalah pendasar gagasan dualistis tentang manusia yang juga mempengaruhi pandangan trasional Kristen
    B. Gambaran Plotinus
            Dia seorang penganut “neoplatinismus” lahir di Mesir dalam tahun 203 M. Ia merasa malu karena mempunyai badan. Ia mengalami badan sebagai sumber penghinaan diri sendiri. Ia tidak pernah menyebut nama orang tuanya yang telah memberinya badan; tak pernah berusaha agar badannya bersih dan sehat. Badan adalah kubur jiwa. Badan adalah unsure jahat, penuh dengan hawa napsu. Cita-cita moralnya : melepaskan diri dari hawa napsu; menolak perkawinan sebagai hal yang tak baik
    C. Gambaran Aristoteles
Jiwa (anima) adalah forma corporis; gambaranya lebih menjelaskan persatuan jiwa dan badan

            GAMBARAN PARA BAPA GEREJA

A.    Ada yang mengikuti gambaran filsafat Yunani
Seperti : Ireneus, Christostomus, Agustinus (pada masa tuanya). Beberapa lamanya penjelasan para patres ini diterima sebagai penjelasan Kristen. Ada sikap permusuhan terhadap badan, Karena itu pula kurang menghargai seksualitas. Seksualitas berbahaya karena terikat dengan badan. Kepuasan seksualitas dianggap berbahaya karena mengaburkan jiwa dan melemahkan roh. Perkawinan ideal adalah perkawinan yang dihayati tanpa kepuasan seksual
B.     Yang mengikuti gambaran biblis
Misalnya Klemens dari Aleksandria (150-215), Agustinus (354-430 pada masa pertobatannya)
C.     Aliran Manicheistis (pengaruh Neo-Platonisnus)
Badan adalah jahat, sumber dosa dan Karena itu berbahaya. Akibatnya seksualitas dipandang remeh. Manicheistis juga mempengaruhi ajaran tradisional tentang manusia

            FILSAFAT MODERN TENTANG BADAN

A.    Kesatuan antara badan dan kepribadian manusia
Badan manusia tidak sama artinya dengan badan seperti yang dibahas dalam buku-buku biologi. Bahasa biologi tentang badan adalah bahasa tentang badan tanpa subyek yang mendukungnya. Jadi sebenarnya bahasa tentang mayat, bukan tentang badan. Pada hal badan selalu terikat dengan satu pribadi, dengan satu obyek.
Badan yang konkrit selalu badan yang terikat dengan “ego” tertentu. Maka badan itu selau merupakan badanku, badan mu, badannya. Tiap badan mewakili seorang pribadi. Badan adalah saya sepanjang saya makluk jasmani. Kesadaran tentang kesatuan badan dan pribadi manusia terbukti juga dalam bahasa. Seperti ungkapan “membawa diri, menarik diri, mundur diri”. Saya adalah badan. Ego sum corpus
B.     Hubungan “Ego” dengan “Badan”
Dalam hal ini ada dua istilah yang berbeda yakni : Ego sum corpus dan  Ego habeo corpus”. Memiliki badan tidak seperti memiliki pemukul, pakaian, tetapi badan sebagai milikku terikat rapat dengan diriku. Tak ada jarak antara saya denga badanku. Adda kesatuan erat biar pun berbeda. Eksistensiku begitu rapat, tergantung pada badanku.
C.     Badan dan dunia sekitar
Badan adalah peralihan antara diri dengan dunia sekitar. Melalui badan asaya bertemu dengan dunia sekitar. Badan adalah jembatan antara pribadi dengan dunia sekitar. Aku mencapai dunia sekitar hanya karena badanku. Hanya badanku maka saya mendapat tempat khusus di dunia ini. Karena badanku maka diriku memainkan peranan khusus dalam khosmos ini. Karena badan ku maka saya menguasai dunia.
D.    Badan dan Kontak dengan sesame
Dalam kehidupan manusia penting ada kontak dengan orang lain. Kontak antara pribadi dan pribadi. Bukan kontak antara badan dan badan saja, karena kontak manusiawi adalah kontak antar pribadi. Karena itu istilah “bersetubuh” sebenarnya salah, sebab tidak menunjukan sifat manusiawi dalam kontak itu.
Melalui badanku saya bisa berkontak dengan sesame melalui badannya pula.badan adalah jembatan peralihan untuk berkontak denga subyek lain. Badan adalah jembatan alat komunikasi, penerjemah, penampakan konkret. Saya menunjukan cinta melalui badan, melalui senyuman dan pelukan. Tetapi badan adalah alat penerjemah yang tidak sempurna, malahan sangat terbatas. Artinya, badan memang bisa menampakan , memperlihatkan isi hati tetapi hanya sebagian saja. Diri serta hati bisa bersembunyi di bawah kulit badan. Manusia bisa tersenyum, tetapi tetapi sebagai senyuman palsu dan pura-pura.  Badan tetap alat yang kaku. Karena itu perlu integrasi dan harmonisasi supaya memberi ekspresi yang lebih baik dan sempurna bagi kepribadian.

            KESIMPULAN 

  1. pandangan filsafat modern tentang kesatuan badan dan kepribadian sesuai dengan pandangan Kristen. Pandangan Kristen terhadap badan, termasuk seksualitas, adalah pandangan yang seimbang diantara pandangan-pandangan ekstrem. Keseimbangannya terutama nahwa kekristenan di satu pihak tidak menghina atau menganggap remeh (underestimate) segala yang behubungan dengan badan, seperti pandangan dualisme filsafat yunani dan manicheisme; tidak bersikap pesimistis yang naïf; tidak membenci dan menganggap buruk badan manusia. Tetapi dipihak lain, kekristenan juga tidak mendewa-dewakan badan (overestimate); tidak menimirsatukan badan atas segala yang lain. Ada optimisme yang real dan bukan naïf atau palsu karena juga mempertenggangkan keterbukaan manusia terhadap pengaruh “dosa pusaka” atas seksualitas. Ada resiko dan bahaya yang bisa menimpa manusia melalui badanya.

  1. manusia adalah satau kesatuan, satu totalitas. Itu artinya :
a.       Badan dan jiwa adalah satau kesatuan yang diciptakan seturut citra Allah. Bukan hanya jiwa citra Allah melainkan badan dan jiwa sutuhnya citra Allah
b.       Dosa tidak hanya satu kecelakaan jiwa tetapi kecelakaan manusia. Tak ada “Peccata carnalia” yang ada hanyalah dosa manusia. Demikian pun keselamatan ilahi tidak saja meliputi jiwa, tetapi seluruh manusia, baik dia selaku makluk rohani maupun makluk jasmani.
c.       Moralitas Kristen yang berintikan imitation Christi” bagi orang Kristen merupakan realisasi dirinya sebagai citra Allah. Tindakan-tindakan seksual juga merupakan penampakan konkret diri manusia sebagai citra Allah. Bahkan tindakan seksual meriupakan penampakan wujud Allah karena itu, penilaian moral terhadap seksual harus positip. Manusia Kristen tidak saja menyaksikan dirinya sebagai putra/I Allah dalam doa, tindakan kultis atau perbuatan amal lainnya saja , bukan satu subyek yang utuh.
d.      Kontak/ hubungan antar pribadi bisa dimungkinkan dengan tindakan-tindakan badani. Artinya, manusia menerjemahkan kesanggupan-kesanggupan rohaninya lewat badannya. Dalam diri manusia ada rupa-rupa kesanggupan, talenta yang masih terpendam. Separuh atau lebih kurang lagi sudah digunakan, sudah diungkapkan, yang lain belum. Satu kesanggupan manusia adalah cinta yang memerlukan pengungkapannya karena tak ada cinta yang tak kelihatan atau bersifat a-badani. Cinta antara pribadi membutuhkan badan sebagai jembatan atau penerjemah. Tugas manusia adalah melatih badannya, agar bisa menerjemahkan pernyataan cinta secara tepat dan sempurna.


BAB  III

 SEKSUALITAS DARI PANDANGAN PSIKOLOGIS


            Pada dasarnya pria dan wanita itu berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan ini, bisa saja dilihat dalam kenyataan hidup kita setiap hari, tetapi juga perbedaan-perbedaan yang meruapakan hasil kajian dari berbagai disiplin ilmu, dari ilmu sejarah, psikologi, psikoanalisa maupun dari sudut antropologi manusia.
Catatan yang pelu dipahami adalah; perbedaan-perbedaan tersebut bukannya merupakan peluang bagi kita untuk saling memojokan, tetapi merupakan sarana yang membantu kita untuk saling melengkapi.

3.1. KENYATAAN ADANYA SIFAT-SIFAT KHAS PRIA DAN WANITA .

            Untuk merusmuskan perbedaan psikis pria dan wanita, tidaklah mudah, karena dewasa ini dengan munculnya kritikan yang dilancarkan oleh kaum feminis, yang sangat tegas menolak perbedaan yang dikategorikan sebagai yang lazim.
Walaupun demikian, perbedaan ini tetap dilihat untuk membantu kita membuat sebuah kajian. Bisa dilihat:


PRIA


WANITA
v  Lebih rational
v  Daya tahan kurang
v  Kurang sabar
v  Lebih agresif
v  Berani
v  Berinisiatif
v  Memilih pekerjaan kasar
v  Lebih emosional dan intuitif
v  Daya tahan besar
v  Sabar
v  Pasip dan menerima
v  Malu-malu
v  Bersifat menjaga dan memelihara
v  Pekerjaan halus

            Selain beberapa sifat yang telah disebutkan di atas, masih bisa ditambah lagi beberapa sifat yang dirasa pas sesuai dengan penagalaman hidup harian kita. Bisa juga dibandingkan dengan lingkungan perfileman atau dalam reklame.

3.2. BEBERAPA PENYELIDIKAN ILMIAH MENGENAI KEKHASAN SIFAT-SIFAT TERSEBUT.

3.2.1. Data-data Sejarah:

            Sepanjang sejarah manusia, beberapa sifat khas pria dan wanita yang banyak kali disebut-sebut: antara lain:

Ø  Wanita menjadi alasan adanya karya tebusan
Ø  Wanita adalah pokok dosa yang mencelakakan laki-laki
Ø  Wanita itu setia dan laki-laki tidak setia.
Ø  Wanita itu jujur dan laki-laki penipu
Ø  Wanita itu halus dan laki-laki kasar
Perbedaan-perbedaan yang disinyalir dalam sejarah ini, umumnya lebih didasari pada prasangka-prasangka, baik positip maupun negatip. Beberapa tokoh dlam sejarah, yang memiliki pandangan baik positip maupun negatip tentang kekhasan sifat-sifat pria dan wanita.
Berikut ini beberapa pandangan yang bersifat negatip tentang wanita:
ü                ARISTOTELES:  Mengatakan; wanita lebih rendah derajatya dari laki-laki, karena bersifat  pasif.
ü                PLATO: Merasa bersyukur karena ia bukan budak dan bukan juga wanita. Menurut Plato, laki-laki yang bersifat penakut, pasti akan dilahirkan kembali sebagai wanita.
ü                VIKTOR HUGO: Mengatakan bahwa wanita adalah setan yang sedikit lebih disempurnakan
ü                St. THOMAS; Mengatakan; bahwa Kristus penebus telah menjadi manusia dengan mengambil jenis kelamin laki-laki, karena jenis kelamin laki-laki adalah yang lebih mulia dari pada wanita.
 Pandangan yang positip tentang wanita:
v  Dari kalangan penyair, mislanya dari abad pertenghan, golongan Troubadour, yang mengagumi dan memuja-muja wanita.
v  Gereja dengan ajarannya sepanjang masa, sangat membela wanita dan pria, namun di pihak lain, banyak kali dalam prakteknya terdapat diskriminasi sampai dengan tahap ini.
Semua pendapat ini di atas, dapat kita kategorikan ke dalam lima kelompok sbb:
1.      Pendapat yang mengatakan bahwa pada wanita terdapat sifat-sifat yang tak terselami (Dari kalangan penyair).
2.      Pendapat yang memandang rendah seks wanita (Underestimation). Dari kalangan Filsafat, misalnya; kant, schopenhauer, atau juga banyak yang terdapat dalam literatur Inggris.
3.      Pendapat yang berlebih-lebihan menghargai wanita (Overestimation). Khususnya dari abad pertengahan dan jaman romantik.
4.      Kaum Feminis yakni golongan yang senantiasa memperjuangkan hak-hak wanita namun tidak tergolong dalam overestimation. Golongan ini  timbul sebagai reaksi terhadap pandangan yang merendahkan harkat dan martabat kaum wanita.
5.      Pendapat yang mengakui adanya perbedaan sifat antara pria dan wanita sekaligus pula sebagai kesamaan derajat mereka.

3.2. 2. PENYELIDIKAN PSIKOLOGIS:

            Ilmu Psikologi menunjukkan perbedaan sifat dan reaksi antara laki-laki dan perempuan, dengan mengadakan test Psikologis pada beberapa bidang tertentu.

Misalnya:

a)      Dalam bidang MOTORIK atau gerak-gerik:
Contoh; gerakan melempar pada pria, berbeda dengan gerakan melempar pada wanita, atau juga gerakan menangkap pada pria berbeda dengan gerakan menangkap pada wanita.

b)      Dalam bidang ITELIGENSI (IQ):
 Hal ini bisa dilihat dalam kenyataan seperti ini: wanita mempunyai daya ingatan yang jauh lebih kuat dari pria, dan pria mempunyai daya hitung yang jauh lebih kuat dari wanita.
c)      Dalam bidang kemampuan VERBAL;
Wanita lebih cepat untuk memulai berbicara ketimbang pria.
d)     Dalam bidang EMOSI:
Beberapa contoh:
v  wanita lebih cepat menunjukkan emosi dari pada pria
v  Wanita lebih cepat meunjukkan rasa cinta, benci, malu dsb dan cepat pula menunjukkan rasa humor atau lucu.

Penilaian:
Ø   Hendaknya perlu diperhatikan bahwa; apa yang disebut dengan sifat-sifat khas pria dan wanita; paling sedikit bergantung pada keadaan; kebudayaan, kondisi ekonomi-sosial, adat dlsbg
Ø   Di satu sisi, penyelidikan ini dapat dipertanggungjawabkan karya penyelidikan psikologis tersebut. Dan karya ini dapat mencerminkan sedikit jiwa dan kepribadian kedua jenis makhluk yang diselidiki.
Ø   Dari pihak lain, hasil test psikologi dalam bentuk angka tidak bisa mengungkapkan rahasia pria dan wanita. Karena itu, test Psikologipun tidak bisa mengungkapkan rahasia pria dan wanita.


3.2.3.  PENYELIDIKAN PSIKOANALISA:

            Dalam abad XX, aliran psikoanalisa berkembang dalam beberapa aliran; di bawah pengaruh: FREUD, KARL YOUNG, ALDER.
Karya psikoanalisa adalah:
               “Menjelaskan aspek-aspek tingkahlaku manusia yang kelihatan, yang bertitik tolak dari penyelidikan lapisan bawah sadar (Sub-conscientia) pada individu manusia”
Tiap-tiap aliran menganalisa tingkah laku manusia dari sudut pandangan tertentu mengenai lapisan bawah sadar tersebut.
Freud misalnya: mengnalisa tingkah laku manusia dari seks dan dorongan-dorongannya, yang katanya meruapakan dasar terdalam yang terpendam  dalam lapisan bawah sadar manusia.
            Walaupn demikian; masih saja terdapat kepncangan dalam aliran psikoanalisa ini: antara lain:
  1. Psikoanalisa bekerja dengan sistem-sistem yang terbatas dan sepihak.
  2. Psikoanalisa bekerja dengan prasangka-prasangka.
  3. Psikoanalisa bekerja dalam situasi klinis, yang dapat dikatakan sebagai abnormal. Obyek peyelidkannya adalah manusia yang sakit jiwa. Situasi abnormal inilah yang akan mempengaruhi premisa-premisa dan kesimpulan-kesimpulan yang akan dibuatnya.

3.2.4. PENYELIDIKAN ANTROPOLOGI KEBUDAYAAN:

            Cabang ilmu pengetahuan ini menyelidiki pula bidang kehidupan seksual dalam struktur sosial manusia dalam konteks kebudayaan suatu bangsa (Etnis) tertentu. Hasil penyelidikan ilmu ini menyimpulkan:
1.      Setiap suku (bangsa) mempunyai ciri tingkah laku kepriaan dan kewanitaan yang khas, walaupun dimana-mana orang bertindak melawan perbedaan tersebut.
2.      Lingkungan sosial dan budaya suatu bangsa, merupakan medan perealisasian terbinanya sifat-sifat kepriaan dan kewanitaan.


BAB V
PANDANGAN KITAB SUCI
TENTANG SEKSUALITAS


5.1. PENDAHULUAN:

            Kitab Suci; baik Perjanjian Lama maupun Baru, tidak membahas secara khusus tentang seksualitas manusia; karena memang bukan untuk itulah maksud dan tujuan  Kitab Suci.
Kitab Suci bermaksud membeberkan relasi timbal balik anatara Allah dan Manusia (Pria dan Wanita) dalam bentuk dialog, dalam mana Allah menyampaikan kepada manusia undanganNya untuk menyelamatkan manusia dan menanti jawaban manusia atas undangan Allah tersebut. Manusia yang dibicarakan dalam Kitab Suci adalah manusia yang konkret, pria dan wanita, dengan segala masalah hidupnya menurut tempat dan zamannya.

5.2. PANDANGAN KS PERJANJIAN LAMA TENTANG SEKSUALITAS:

5.2.1. Penciptaan Manusia Sebagai Pria dan Wanita Menurut Gambaran Allah (Kej; 1:26-27).

            -. Membaca teks ini secara bersama
     -. Minta tanggapan audiens: Apa komentar kita tentang bacaan ini, atau juga      bagaimana apreasi kita terhadap bacaan ini?
                 
            Karya penciptaan manusia mencapai puncaknya dalam penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia dengan seksualitasnya; pria dan wanita; untuk menjadi gambaranNya. Dengan kata lain; seksualitas manusia yang pria dan wanita itu; diperlukan untuk memperkembangkan diri semakin mirip menjadi gambaran Allah. (Bisa saja dipancing diskusi; apakah allah itu pria dan wanita?). Pria dan wanita itu saling melengkapi sehingga menjadi gamabaran Allah.
Seksualitas manusia yang demikian itu pada awalnya baik. Allah sendiri puas dengan ciptaanNya, sehingga Allah melihat: sungguh amat baik, yang semakin  (Kej 1:31). Manusia yang berada dalam kondisi seksual adalah sungguh amat baik sebab berorientasi pada hidup yang subur, yang semakin berkembang menjadi gambaran Allah sendiri.
Dalam kisah penciptaan ini, kesamaan martabat pria dan wanita; kedua-duanya disebut sebagai species “Manusia”. Paham manusia yang utuh tidak hanya terdapat pada pria tetapi juga pada wanita.
Kisah penciptaan manusia sebagai pria dan wanita, dapat dipandang sebagai hasil suatu proses pemikiran teologis yang dilakukan oleh Israel dalam pengalamannya akan Tuhan dengan menengok kembali kepada asal mulanya dalam penciptaan.

5.2.2. Penciptaan Wanita dan Kesatuan Pria-Wanita:

5.2.2.1. Penciptaan Wanita:
a.       Pernyataan Allah: “Tidak baik kalau manusia itu hidup seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong yang sepadan dengannya” (Kej 2:18). Perhatian pencipta akan ciptaannya rupanya belum cukup. Lingkungan hidup manusia (Kej 2:8-17) yang mula-mula tampaknya ideal, ternyata tidak sempurna, sepi dan tiada teman. “Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia”. Keputusan ini dilukiskan dalam dua adegan; penciptaan dan pemberian nama binatang-binatang (Kej 2:19-20) dan penciptaan wanita (Kej 2:21-23).
b.      Penciptaan wanita merupakan kontras terhadap penciptaan binatang dan lebih ruwet, dengan penuh simbolik:
v  Tidur Nyenyaknya Adam: berarti bahwa karya Allah penciptaan merupakan rahasiah bagi manusia.
v  Tulang Rusuk: Pertanyaan kita; mengapa ketikan Tuhan menciptakan wanita; tidak diambilnyalah tanah liat seperti pada saat Tuhan menciptakan yang lainnya? Hal ini terjadi untuk menunjukkan: bahwa Wanitalah meruapakan penolong yang sepadan untuk pria. Dari tulang rusuk berarti; berasal dari species yang sama, dari keturunan yang sama, masih sedarah.
v  Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”. Tuhan sendiri yang menhantar wanita itu kepada si pria yang menyambutnya dengan sukaria, dengan salam sebagai ungkapan persaudaraan. Akhirnya manusia pria menjumpai penolong yang sepadan.
v  Isch-ischya. “Ia akan dinamai perempuan (Ischya), sebab ia diambil dari laki-laki (Isch). Permainan kata ini menunjukkan asal Ischa (Wanita) dari Isch (Pria) dalam terjemahan hilang, dapat menjelaskan penciptaan dari tulang rusuk dan mempunyai arti yang lebih dalam; hubungan pria dan wanita yang saling dijodohkan itu bukan hasil dari sebuah kebetulan, melainkan bedasarkan tata penciptaan.
v  Dalam pertemuan dengan wanita (ischya), manusia (Ha adam) mengenal dan mewujudkan dirinya sebagai pria (Isch). Dalam pertemuan dengan wanita, pria mengenal dirinya sebagai pria dan wanita mengenal dirinya sebagai wanita.
5.2.2.2. Kesatuan Pria dan Wanita (Gagasan satu daging:Kej 2:24):
            Komentar pencerita; “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Pengaruh teks yang menggagas tentang kesatuan pria dan wanita menjadi satu daging ini, berdampak luas.
            Bdk Teks: Mat 19:5; Mrk 10:8; Ef 5:31; I Kor 7:10-11.
Ø  Teks ini menunjukkan daya tarik pria dan wanita; diterangkan dengan penciptaan istimewah wanita. Pria terdorong kembali kepada wanita, yang adalah sebagian dari dirinya. Ia bersedia meninggalkan orang-orang yang dikasihnya untuk bersatu dengan wanita.
Ø  Gagasan “Satu daging” atau “Basar Ekhad”, mencakup tiga unsur: yaitu:
o   Gagasan hubungan darah,
o   Persekutuan Hidup,
o   Wanita sebagai pelengkap pria
Jadi, gagasan satu daging bersifat antropologis; artinya bukan hanya
jasmani, melainkan juga personal, sehati-sejiwa, satu nilai yang begitu tinggi sehingga pria berani melepaskan orangtuanya untuk membentuk persekutuan hidup baru dengan isterinya.

5.2.2.3. Kesimpulan:

            Dalam Kej 1, lebih dinyatakan bahwa perbedaan kelamin itu Konstitutif untuk manusia, artinya: Dikehendaki Pencipta. Dalam kejadian 2, juga dijelaskan arti perbedaan kelamin itu. Mungkin beberapa gagasan dapat diringkas dan disimpulakan sbb:

Yayasan Persekolahan Umat Katolik Keuskupan Larantuka
SMAK ST. DARIUS LARANTUKA
UJIAN SEMESTER GENAP

                                        Mata Pelajaran ; Pendidikan Kewarganegaraan
                                        Kelas                : XI
                                        Hari/Tanggal    : Senin, 9 Juni 2008
                                        Waktu               : 90 Menit.

KERJAKAN SEMUA SOAL DI BAWAH INI: (Jawablah dengan singkat, paat dan jelas).
1.      Hal-hal mendasar dalam Hubungan Internasional:
a)      Pengertian Hubungan Internasional
b)      Sebut dan jelaskan asas-asas Hubungan Internasional
c)      Pentingnya Hubungan Internasional

2.   Perwakilan dalam hubungan antarnegara:
a)      Jelaskan alur pengangkatan perwakilan diplomatik
b)      Anda ditunjuk oleh Presiden RI; Susilo Bambang Yudohono menjadi Diplomat di negara Amerika Serikat. Sebagai seorang Diplomat, apa yang harus anda lakukan?
c)      Sebut dan jelaskan perangkat perwakilan Diplomatik
d)     Jelaskan PERBANDINGAN (Persamaan dan Perbedaan) Perwakilan Diplomatik dan perwakilan Konsuler

3.  Perjanjian Internasional;
a)      Pengertian Perjanjian Internasional.
b)      Buatlah penggolongan perjanjian internasional.
c)      Jelaskan proses atau tahapan terlaksananya perjanjian Internasional
d)     Sebut,  jelaskan dan berikan contoh Jenis-jenis Perjanjian Internasional.

4.   Jelaskan istilah-istilah berikut ini:
a)      Politik luar negri “bebas – aktif”
b)      Treaty
c)      Convention
d)     Declaration
e)      General Act
f)       Convenant.


= Selamat bekerja, semoga sukses =


Tidak ada komentar: